Minggu, 02 Mei 2010

Tugu Ale-Ale

Tugu Ale-Ale 2006
Jika kita lihat, sebuah tugu yang gambarnya ini saya dapat dari sebuah situs yaitu ale-ale.com, tidak di sangka-sangka kalo gambar di samping ini adalah gambar tugu ale-ale di jln R.Suprapto.

Coba bayangkan betapa nampaknya tugu ale-ale dengan bentuk ale-alenya yang masih orisinil.Warna yang kontras kecoklatan yang melambangkan sebuah makanan khas kota ketapang yakni kerang ale-ale. Pagarnya yang masih sederhana yang hanya berupa tiang-tiang pendek yang tertanamerat di sisi tugu ale-ale.Dan nilai plusnya,ada penerangan sederhana di atas tugu ale-ale tempo doeloe di samping. Di samping adalah gambar tugu ale-ale pada tahun 2006. Hmmm...memang sudah lama yah, tidak memperhatikan bentuk-bentuk tugu ale-ale yang sudah lawas itu.

Konon ada sebuah cerita tentang ale-ale yakni cerita tentang pohon Ketapang Raksasa. Dahulu,orang-orang hidup di bawah pohon raksasa itu. Bentangannya itu menutupi perkampungan dari hulu ke hilir karena begitu besarnya pohon itu. Kemudian ada seorang warga yang berinisiatif untuk menebang pohon itu, karena pohon Ketapang raksasa itu mengganggu aktivitas masyarakat. Padi tidak subur karena tidak ada matahari. Pakaian tidak kering karena tidak tersentuh panasnya sinar matahari dan banyak masyarakat yang sakit beri-beri. Namun sialnya, masyarakat tersebut tidak bisa menebang pohon itu. Karena setiap kali dipotong pohonnya kembali ke bentuk semula. Suatu hari seorang warga mendapat wangsit dari Dewata empunya pohon. Beliau berpesan kepadanya,"Kamu tidak akan bisa menebang pohon itu hanya dengan tenaga dan besi yang kamu punya,tempalah sebuah kapak Perak untuk menebang pohon itu, tapi jangan salahkan saya atas apa yang kamu perbuat, karena kalian tidak senang kami hidup bersama kalian." Akhirnya dia terbangun dan memberitahukan apa yang telah dimimpikannya kepada tetua. Dibuatnyalah sebuah kapak Perak. Aneh bin ajaib, pohon itu dapat ditebang. Orang-orang sudah mempersiapkan diri dari kejauhan dari Hulu dan ada yang ke Hilir. Betapa Raksasanya pohon itu, dan ketika tumbang terjadilah keajaiban. Pohon itu raib bak ditelan bumi, Kemanakah Pohon Ketapang raksasa itu ? Rupanya pohon Raksasa itu berubah menjadi sebuah sungai besar yang sekarang dinamakan Sungai Pawan yang membentang dari Hulu ke Hilir dan buah-buah dari pohon Ketapang itu berubah menjadi hewan kerang yang kita sebut sebagai Ale-Ale.Sayangnya,orang-orang desa itu menyesal karena menebangnya, karena kulit mereka jadi hitam akibat panas dan tidak ada lagi pohon besar yang telah melindungi mereka. Sejak saat itu desa itu dinamakan Ketapang.

Tugu Ale-Ale 2010
Cerita di atas mungkin aneh dan kurang masuk akal,karena cerita tersebut saya dapatkan dari mulut ke mulut. Apapun yang kita rasakan,berbanggalah kepada apa yang telah diberikan dan kita harus bersyukur. Demikian pesan dari cerita tersebut.Kembali kepada tugu ale-ale.Apapun bentuknya, jangan sampai dijadikan citra etnitika belaka ,jadikanlah itu sebagai icon masyarakat yang berharga. Tiap hari lalu lalang di tugu itu,sekali-kali tengoklah ke masa lalu. Ketapang adalah kota persatuan, segala etnis membangun Ketapang. Kita adalah masyarakat Ketapang, tunjukkanlah kecintaan kita terhadap kota ASRI ini.

Pesan saya,bagi pendatang luar Ketapang. Jangan lupa makan ale-ale supaya ingat terus kepada Kota Ale-Ale ini. Trims

0 komentar:

Poskan Komentar

Trima kasih atas kritik dan saran, silakan:

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design